Kamis, 30 Oktober 2008

WANITA PERKASA DI TENGAH KUBANGAN TAMBANG TIMAH




Sinar matahari siang itu sangat terik, panasnya seperti ingin menembus topi dan kain pembebat badan Nenek Murni (69) dan Santi (15) cucunya. Namun keduanya seperti tidak peduli. Sambil berendam di air berwarna kecoklatan dan menyiramkan air di sungai buatan dari para penambang timah ke sebuah saringan halus yang berisi pasir-pasir halus warna coklat tua dan hitam, keduanya berusaha menepis panasnya sinar matahari.



"Kalau tidak begini, ya tidak punya uang," kata Nek Murni, yang mengaku telah melakoni kegiatan ngelimbang atau mengumpulkan sisa-sisa biji timah, di bekas lahan pengolahan timah di Desa Trak, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Belitung (Babel), lebih dari sepempat usianya.

Kerja keras nenek bercucu 18 orang ini, sangat tidak sebanding dengan jerih payahnya. Keduanya harus sudah berada di tengah-tengah kawasan bekas galian seluas lima hektare itu sejak pukul tujuh pagi hingga pukul enam sore. Keduanya harus menempuh perjalanan sekitar setengah jam dengan menumpang sepeda motor para pendulang timah lainnya hingga ke tengah lokasi ngelimbang-nya. Atau kalau tidak ada tumpangan sama sekali, keduanya harus rela berjalan kaki hingga dua jam.

Rute perjalanan yang mereka tempuh, saat ini sudah terasa lebih ringan, karena jalur jalan darat tak beraspal di tengah hutan hingga ke mulut bekas penambangan itu telah diperlebar saat Polda Kepulauan Babel, melakukan operasi besar-besaran anti penambangan timah liar, belum lama ini.

Namun jalan mulai agak sulit saat keduanya harus memasuki hutan, jalurnya kecil dan hanya berupa jalan setapak yang bisa dilewati sepeda motor hingga masuk ke bekas lahan galian. Saat itu kita harus berhadapan dengan kawasan hutan yang gundul, angin pun terasa kering memanas, panas matahari semakin terik.

Sebuah jembatan kayu kecil yang membelah sungai buatan dengan warna air yang sangat keruh, menjemput langkah. Ratusan lahan bekas galian yang berujud kubangan, terlihat mencolok. Luas dan dalam kubangan itu sangat bervariatif, mulai luasan 10 meter persegi dan kedalaman satu meteran, hingga kedalaman duapuluhan meter dan luas ratusan meter persegi.

Dari kubangan-kubangan besar itu, terdengar suara raungan mesin diesel yang menyemprotkan air ke dalam tanah sekaligus menyedot lumpur dan membuangnya ke luar kubangan hingga membuat sebuah anak sungai. Di sinilah butiran-butiran timah ditapis, dipilah dan dikumpulkan oleh pengusaha yang memiliki mesin diesel.

Namun tidak demikian dengan Nenek Murni dan Santi, cucunya. Keduanya hanya mengumpulkan sisa-sisa pasir yang tidak diambil para penambang pemilik mesin diesel. Buah ketekunannya, dalam 13 jam berkubang di air lumpur dan sengatan terik matahari, keduanya maksimal hanya mengumpulkan sekilo "biji tai timah" atau biji timah kualitas paling rendah. Sekilo biji tai timah itu, hanya dihargai Rp 50 ribu.

Minimnya pendapatan Nenek Murni ini, menurutnya, mengantarkan Santi menjadi gadis yang harus meninggalkan sekolah di saat ia baru di bangku kelas empat SD. "Daripada sekolah, mending bantu ngelimbang. Sekolah kan butuh uang, kita susah cari uang," katanya.

Ayah Santi dan kakeknya, juga menggantungkan hidup mereka sebagai kuli harian di penambang timah. Sebagai kuli, mereka cukup gembira mendapatkan gaji Rp 20 ribu per kg biji timah yang diperolehnya bersama kelompok mereka. Tiap kelompok penambang biji timah, biasanya terdiri dari dua hingga empat orang kuli.

Namun kakek Santi saat ini sedang terbaring lemas di rumah dalam kondisi sakit keras. "Kasihan, kakek biar istirahat dulu. Aku saja yang ngelimbang membantu nenek," kata Santi, sambil menutup lengannya yang masih kelihatan putih dari sengatan matahari, menggunakan kain warna gelap yang sudah lusuh.

Satu kelompok kecil penambang biji timah, setiap hari harus mengeluarkan biaya beli solar sebanyak 8 liter dan bensin 10 liter untuk menjalankan sebuah mesin diesel berkapasitas 8 PK. Mesin diesel ini harus menjalankan tugas ganda, sebagai mesin penyemprot air sekaligus pengisap lumpur.

Dengan dua orang kuli, kelompok kecil penambang biji timah ini harus mendapatkan minimal 7 kg biji timah yang bagus, dengan harga berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram. "Itu baru impas, padahal rata-rata kita hanya dapat 5 kilogram. Tapi pernah juga dapat 15 sampai 20 kilogram," kata Andi. Saat ini, Andi mempekerjakan dua orang kuli, Achmad dan Sungalih.

Andi mengakui, ia bersama sekitar tujuh kelompok penambang biji timah lainnya itu hanya memanfaatkan sisa penambangan timah yang sudah tutup dan akan direklamasi untuk dibuat areal pertanian kelapa sawit. "Kita dapat izin dari pemilik lahan untuk menambang sisa timah sampai pelaksanaan reklamasi. Jadi sebelum lubang-lubang galian itu ditimbun, kita masih bisa mencari sisanya di sini," katanya.

Potret kemiskinan yang harus dijalani Nenek Murni dan Andi, hanyalah sebagian kecil dari realita di tengah-tengah jutaan kubangan bekas galian tambang timah di Provinsi Babel. Sangat ironis jika di daerah penghasil biji timah terbesar di dunia itu masih menyisakan kemiskinan permanen yang harus dipikul orang-orang seperti Nenek Murni dan Andi.

Padahal, Babel sebagai world's tin bel (sabuk timah dunia), mempunyai cadangan timah di semua wilayah baik di darat maupun laut. Sejarah pertambangan timah di Pulau Bangka dimulai tahun 1710 dan di Pulau Belitung tahun 1851 yang dilakukan Belanda melalui VOC.

Pertambangan timah sebelum tahun 1998 dilakukan PT Timah Tbk dan PT Koba Tin dengan produksi rata-rata 40 ribu ton per tahun. Sejak tahun 1998, masyarakat Babel mulai berani melakukan penambangan berskala kecil atau tambang rakyat atau tambang inkonvensional, sehingga masyarakat merasakan mudahnya mencari uang.

Dampaknya, pada tahun 2004 terdapat 6.507 unit tambang konvensional. Dari jumlah itu, 199 unit memiliki izin dan 6.308 sisanya ilegal. Kandungan timah di Babel, diyakini memiliki tingkat kemudahan untuk dieksploitasi dan terdapat cukup banyak. Membentuk gugusan mulai di kepulauan hingga lautan. Seharusnya, provinsi yang kaya ini tidak akan pernah memiliki keluarga miskin seperti Nenek Murni dan Andi. (Joe)

0 komentar: