Pengungkapan penyelundupan skala besar dari Malaysia ke Indonesia yang dilakukan tim gabungan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri dan Polda Riau di Sungai Siak, Pekanbaru, sangat mencengangkan. Bukan hanya soal nilai penyelundupan yang mencapai Rp 100 miliar sekali angkut yang berhasil dibongkar, tetapi penyelundupan secara terbuka itu sudah berjalan selama lebih dari dua tahun, dan dibiarkan berlarut-larut.
Diperkirakan, dari alur Sungai Siak ini, barang selundupan mencapai triliunan rupiah. Bahkan pelaku utama penyelundupan itu juga orang terkenal di Pekanbaru, Al Gula, Nik dan As, sederet nama yang sudah populer di kalangan petugas keamanan. Hampir semua petugas keamanan mengenal siapa Al Gula dan apa saja geliat bisnisnya.
Namun sepak terjang Al Gula harus berhenti di tangan tim gabungan Polri. Bukan hanya sepak terjang Al Gula yang harus kandas, karier dua pejabat Polri yakni Kapolsek Tenayan Raya Iptu Ardinal Efendi dan Kapolsek Kesatuan Polisi Pengamanan Pelabuhan Pekanbaru AKP Seno Mulya, juga harus diserahkan ke pejabat lain. Tidak tanggung-tanggung, seperti diungkapkan Kapolda Riau Brigjen Pol Sutjiptadi, penggantian dua pejabat itu karena tidak melaporkan kepada atasannya tentang adanya aksi penyelundupan di wilayah mereka. Padahal, keduanya dianggap mengetahui adanya penyelundupan tersebut.
"Dengan penggantian kedua pejabat ini, kita harapkan akan lebih mudah dalam menyidik kasus ini. Saat ini kasus sedang ditangani Mabes Polri," kata Sutjiptadi, seperti disampaikan Kabid Humas Polda Riau AKBP Zulkifli.
Penyelundupan melalui sepanjang alur Sungai Siak, sudah menjadi rahasia umum. Semua orang di sepanjang sungai mengetahui hal itu. Bahkan masyarakat Pekanbaru juga mengetahuinya. Jika masyarakat mengetahuinya, sudah barang tentu polisi dan aparat keamanan lainnya mengetahuinya.
Tetapi semuanya diam saja melihat pelanggaran hukum ini. Yang menjadi permasalahan, apakah memang ini semua sengaja dipelihara untuk mempertebal pundi-pundi sekelompok orang atau memang ada sindikat yang bermain dan melibatkan petinggi aparat keamanan, sehingg aksi pelanggaran hukum ini bisa berjalan mulus selama sekian tahun?
Disinyalir, aksi yang dilakukan Al Gula ini mendapat restu dari oknum petinggi semua angkatan, kepolisian dan pejabat pemerintah daerah di Pekanbaru hingga Riau. Karena semua orang mengetahui, penyelundupan ini dilakukan secara terbuka dan besar-besaran. Bahkan untuk mengangkut barang dari pelabuhan saja harus menggunakan truk-truk yang junlahnya banyak.
Terlepas dari semua itu, pengungkapan penyelundupan yang melibatkan tiga unit kapal yang mengangkut sekitar 1.800 ton barang dari Pelabuhan Port Klang, Malaysia itu, menunjukkan keseriusan Polri dalam memerangi penyelundupan. Sikap tegas yang diambil Kapolda Riau (waktu itu) Brigjen Pol Sutjiptadi, merupakan implementasi dan pengejawantahan perintah dari Kapolri Jenderal Pol Sutanto.
Karena berulang kali, Kapolri Sutanto selalu mengingatkan anak buahnya untuk tidak 'nakal' dan main-main dengan pelanggaran hukum. Bahkan Sutanto secara terbuka, baik di hadapan DPR RI maupun melalui wartawan, selalu mengulang peringatannya. Bagi mereka yang tidak bisa diingatkan, Kapolri Sutanto dengan tegas mengungkapkan, bahwa masih banyak anggota Polri yang baik yang siap menggantikan mereka yang nakal.
Namun ada baiknya Polri menggarisbawahi pesan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat penangkapan Jaksa Urip Tri Gunawan oleh tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dengan tegas Presiden berpesan, agar semua yang terkait dalam kasus itu diusut.Kalimat orang pertama di Indonesia itu, seharusnya kita kupas lebih mendalam lagi.
Makna pesan itu sebenarnya sangat luas, bukan hanya untuk kasus penyuapan dalam penanganan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) saja, namun kita harus bisa menerjemahkannya juga untuk kasus-kasus lain. Termasuk dalam Sungai Siak gate ini.Mabes Polri harus berani mengungkap lebih lagi dugaan keterlibatan orang-orang di Polda Riau dan mungkin juga di Mabes Polri.
Bahkan kasus ini bisa menjadi sebuah momentum bagi Polri untuk mengikis habis oknum-oknum di angkatan lain dan pemda yang juga bermain. Karena Kapolsek Tenayan Raya dan Kapolsek Kesatuan Polisi Pengamanan Pelabuhan Pekanbaru, tidak akan berani 'bermain' tanpa ada pihak yang memback-upnya. Jalan Berliku Dugaan keterlibatan oknum aparat keamanan dalam penyelundupan ini, memang sangat nyata.
Pada waktu-waktu tertentu, semua kelompok aparat keamanan seperti dijadwal harus 'mampir' ke pelabuhan Sungai Siak. Ada 'biaya pengamanan' yang mereka terima dari orang-orang tertentu.Akibat adanya 'biaya pengamanan' ini, kegiatan pengapalan, bongkar muat kapal dan pengangkutan di darat menjadi lebih aman. Padahal untuk menyusuri sepanjang alur Sungai Siak saja harus melewati enam dermaga yang semuanya memungkinkan dijadikan lokasi bongkar muat barang selundupan.
Lokasi penggerebekan dan penangkapan kapal-kapal ini, dilakukan di dermaga yang terletak di Jalan Nelayan, ini adalah salah satu dari tiga dermaga milik jaringan Al Gula, Nik, dan As.Jika kita mengamati rute penyelundupan ini, terlihat kekompakan tim dan kerja kerasnya. Sebulan sebelum penggerebekan, anggota tim sudah berada di Pekanbaru dan beberapa di antaranya menyewa rumah-rumah petak di sekitar dermaga.
Untuk memasuki wilayah Pelabuhan Meulebung tidaklah mudah. Jarak antara Jalan Hang Tuah, kawasan Kulim, Pekanbaru, ke lokasi sekitar 10 km. Untuk mencapai lokasi harus melewati areal perkebunan kelapa sawit yang memiliki jalan bercabang dan semuanya hampir mirip. Jangankan orang baru, orang Pekanbaru saja bisa kesasar jalan jika tanpa dipandu untuk memasuki kawasan ini.
Sebelum sampai ke Dermaga Meulebung, terdapat empat portal yang harus dilalui. Tiga portal dijaga petugas keamanan perusahaan kelapa sawit dan portal keempat dijaga pasukan sipil yang disebut Laskar Hulubalang Melayu.Menurut pihak perusahaan, mereka tidak akan berani menghentikan truk-truk pengangkut barang dari pelabuhan apalagi mengecek isinya.
Karena itu hanya akan mencari masalah saja.Bila ada kapal sandar, tidak seorang pun bisa menembus portal terakhir yang masih berjarak satu kilometer ke pelabuhan dan memasuki kawasan itu tanpa seizin para hulubalang. Saat kapal sandar, sekitar enam petugas keamanan berseragam lengkap dan memegang senjata laras panjang dari polsek, selalu berjaga-jaga.
Pada saat yang bersamaan, sekitar 250-an orang pekerja menurunkan barang muatan kapal dan memindahkannya ke dalam truk yang sudah menunggu dengan cepat. Bongkar kapal dan muat ke truk harus selesai dalam hitungan tiga jam. Tidak boleh lebih, meski kapal sandar pada tengah malam sekali pun.Lantas, apa saja isi muatan kapal-kapal itu?
Berdasarkan pengakuan para kuli angkut, barang yang mereka turunkan dari kapal dan mereka naikkan ke puluhan truk, biasanya berupa gulungan bahan tekstil, kantong biji plastik, suku cadang mobil, mainan anak-anak, sepeda motor dan ribuan barang lainnya. "Jumlahnya banyak sekali, ribuan. Truk yang ngangkut lebih dari 50 unit," kata seorang kuli.
Barang-barang yang sudah dipilah-pilah sesuai jurusan truk, langsung meninggalkan dermaga. Barang langsung didrop ke Jakarta, Medan, Pekanbaru dan beberapa kota besar lain di Indonesia. Sebagian barang langsung disimpan di gudang di Jalan Riau, Pekanbaru, dan jalan lintas timur kilometer 11,6. Lokasi ini hanya berjarak sekitar 500 meter dari Mapolsek Tenayan Raya. Barang-barang yang kini disita tim gabungan Mabes Polri dan Polda Riau, harus diangkut dari pelabuhan menggunakan 78 truk-truk tronton.
Sebagian barang yang sudah diturunkan dari truk disimpan di tiga gudang berukuran 400 meter persegi dengan tinggi enam meter. Namun belum semua barang habis dalam truk. Karena masih terdapat 12 truk yang isi muatannya belum dibongkar. (Joe)
0 komentar:
Posting Komentar