Senin, 10 November 2008

SETELAH "ML", NGAPAIN YA?


TIDAK jarang setelah eM-eL, timbul perasaan mengantuk. Dan memang setelah mencapai puncak, rasa lelah akan lebih menyenangkan jika dilanjutkan dengan tidur.

Tapi tahukan Anda, jika Anda lanjutkan dengan tidur, tidak akan menjamin perasaan pasangan Anda nyaman. Memang benar, ada alasan biologis yang cukup kuat mengapa Anda sangat ngantuk setelah ML. Karena saat orgasme, seperti dikutip Suarakarya-online.com, manusia mengeluarkan hormon yang disebut dengan oxytocin yang membuat kita ngantuk.

Tapi demi menjaga perasaan pasangan Anda, ada baiknya Anda lakukan pilihan kegiatan lain setelah ML ketimbang tidur. Misalnya dengan tetap menyentuh si dia. Tidak perlu membuat gerakan yang merangsang, karena Anda berdua sama-sama lelah.

Dengan sentuhan ia akan merasa sangat diperhatikan. Biarkan ia tahu bahwa Anda masih mengaguminya, setelah Anda ML dengannya.

Anda bisa menempatkan tangan Anda di pahanya atau meraba dengan lembut dadanya. Anda tidak perlu ML lagi, cukup berikan kasih sayang dan perhatian.

Atau Anda bisa lanjutkan dengan mandi bersama. Setelah Anda berdua menghabiskan waktu dengan penuh keringat, saatnya Anda membersihkan badan. Penuhi tub dengan air, berbaringlah di antara kedua kakinya dalam air. Sabuni dia dan usap-usap tubuhnya dengan pijatan-pijatan lembut. Percayalah, ia tidak akan melupakan setiap menit pengalaman bersama Anda saat itu.

Jika Anda ingin melanjutkan ke babak kedua, mulailah proses foreplay kembali. Mulailah dengan mencium bibirnya, menjilat lembut dadanya, dan merasakan semua bagian tubuhnya.

Namun ingat, setelah bercinta tetaplah berikan perhatian pada pasangan Anda, sehingga pasangan Anda tidak merasa hanya dibutuhkan saat bercinta saja. (JoE)

Readmore ""

Minggu, 09 November 2008

WASIAT BOMBER: GELAR TERORIS LEBIH MULIA


SALAH satu orang dari trio bomber Bali, Imam Samudra, telah menulis surat wasiat, sebelum ia dan kedua rekan lainnya tewas di ujung peluru tim eksekusi Brimob Polda Jateng.


Bukan hanya Imam Samudra, namun dua "saudara" seperjuangannya juga meyakini, apa yang ia lakukan adalah sebuah perjuangan dan mereka akan mati sahid sebagai syuhada.

Berikut ini surat wasiat Imam Samudra dalam sebuah kertas berukuran HVS yang dibagi-bagikan kepada warga dan wartawan di sekitar kediaman Ibunda Imam, di Kampung Lopang Gede, Kelurahan Lopang, Kecamatan Serang, Banten, Minggu (9/11/2008). Dalam surat tersebut, Imam menyerukan untuk terus berperang melawan kaum kafir.

Berikut surat wasiat Imam Samudra:

"Saudara, aku wasiatkan kepada antum dan seluruh umat Islam yang telah mengazzamkan dirinya kepada jihad dan mati syahid untuk terus berjihad dan bertempur melawan setan akbar, Amerika dan Yahudi laknat.

Saudaraku, jagalah selalu amalan wajib dan sunnah harian antum semua. Sebab dengan itulah kita berjihad dan sebab itulah kita mendapat rizki mati syahid. Janganlah anggap remeh amalan sunnah akhi, sebab itulah yang akan menyelamatkan kita semua dari bahaya futur dan malas hati.

Saudaraku, jagalah salat malammu kepada Allah Azza Wajalla. Selalulah isi malam-malammu sujud kepada-Nya dan pasrahkan diri antum semua sepenuhnya kepada kekuasaannya. Ingatlah saudaraku, tiada kemenangan melainkan dari Allah semata.

Kepada antum semua yang telah mengikrarkan dirinya untuk bertempur habis-habisan melawan anjing-anjing kekafiran, ingatlah perang belum usai. Janganlah takut cercaan orang-orang yang suka mencela, sebab Allah di belakang kita. Janganlah kalian bedakan antara sipil kafir dengan tentara kafir, sebab yang ada dalam Islam hanyalah dua, adalah Islam atau kafir.

Saudaraku, jadilah hidup antum penuh dengan pembunuhan terhadap dengan orang-orang kafir. Bukanlah Allah telah memerintahkan kita untuk membunuh mereka semuanya, sebagaimana mereka telah membunuh kita dan saudara kita semuanya.

Bercita-citalah menjadi penjagal orang-orang kafir. Didiklah anak cucu antum semua menjadi penjagal dan teroris bagi seluruh orang-orang kafir.

Sungguh saudaraku, predikat itu lebih baik bagi kita daripada predikat seorang muslim, tetapi tidak peduli dengan darah saudaranya yang dibantai oleh kafirin laknat. Sungguh gelar teroris itu lebih mulia daripada gelar ulama. Namun mereka justru menjadi penjaga benteng kekafiran."
(Joe)


Readmore ""

TRIO BOMBER BERAKHIR DI UJUNG SENPI BRIMOB


NASIB trio bomber Bali pada 12 Oktober 2002, Amrozi, Mukhlas alias Ali Ghufron, dan Imam Samudra alias Abdul Azis, berakhir di ujung senjata api tim eksekutor dari Brimob Polda Jateng. Ketiganya dieksekusi Minggu (9/11) malam sekitar pukul 23.20 WIB, di Pulau Nusakambangan.



Pelaksanaan eksekusi ini sempat beberapa kali tertunda dan memunculkan pro kontra, baik di dalam maupun di luar negeri. Pemerintah Indonesia membutuhkan waktu sekitar enam tahun sebelum akhirnya benar-benar mengakhiri perjalanan hidup ketiganya di depan regu tembak.

Bahkan beberapa hari sebelum pelaksanaan eksekusi, media massa nasional dan internasional gencar memberitakan rencana eksekusi itu. Namun pemerintah sepertinya masih sempat tarik ulur, sebelum akhirnya mengetok palu jam pelaksanaan eksekusinya.

Media massa secara detail mewartakan apa pun terkait ketiganya. Bahkan kita seperti bisa melihat dari dekat kehidupan ketiganya di balik jeruji besi di pulau yang ditakuti itu.

Namun, pada Sabtu malam itu, ketiga terpidana mati itu dibawa keluar oleh anggota Tim Gegana Polda Jateng dari selnya di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Batu, Pulau Nusakambangan, Cilacap.

Mereka dinaikkan ke sebuah mobil dan dibawa ke suatu tempat yang dikenal dengan nama "Nirbaya" yakni berupa perbukitan yang berada sekitar enam kilometer sebelah selatan LP Batu.

Nirbaya merupakan sebuah lembaga pemasyarakatan peninggalan Belanda yang telah ditutup sejak 1986. Kini tempat tersebut telah dijadikan tempat eksekusi bagi sejumlah terpidana mati.

Berikut ini kronologis eksekusi:

Sabtu (8/11/2008)
Sekitar pukul 23.15 WIB, para petugas yaitu jaksa selaku eksekutor, polisi, rohaniawan, dan dokter menjemput ketiga terpidana untuk dibawa ke tempat pelaksanaan eksekusi, yaitu Lembah Nirbaya yang berjarak sejauh dua kilometer dari LP Batu Nusakambangan.

Minggu (9/11/2008)
00.15 WIB, ketiga terpidana mati dieksekusi dengan cara ditembak oleh regu tembak dari satuan Brimob Polri dan disaksikan oleh jaksa selaku eksekutor, rohaniawan, dan tim dokter. Kemudian, tim dokter memeriksa dan menyatakan ketiga terpidana telah meninggal.

01.00 WIB, jenazah ketiga terpidana dibawa ke Poliklinik LP Batu Nusakambangan untuk diotopsi dan dijahit luka tembak para terpidana. Kemudian, jenazah ketiganya dimandikan oleh pihak keluarga Amrozi dan dikafankan dengan kain kafan yang disiapkan pihak keluarga.

05.45 WIB, jenazah ketiga terpidana diserahterimakan oleh jaksa eksekutor kepada komandan pilot helikopter yang akan mengantar jenazah kepada pihak keluarga masing-masing.

06.00 WIB, tiga unit helikopter, yang terdiri atas satu unit membawa jenazah Imam Samudera ke Serang, Banten, dan dua unit lainnya membawa jenazah Amrozi dan Ali Ghufron ke Lamongan, Jawa Timur.

08.30 WIB, helikopter yang membawa jenazah Imam Samudera tiba di Mapolda Banten dan kemudian diserahterimakan oleh Asisten Tindak Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Banten kepada pihak keluarga yang diwakili Agus Setiawan untuk selanjutnya dishalatkan dan dimakamkan.

08.55 WIB, dua helikopter yang membawa jenazah Amrozi dan Ali Ghufron tiba di Lamongan dan kemudian diserahterimakan oleh Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Lamongan kepada pihak keluarga yang diwakili M Khosid untuk selanjutnya dishalatkan dan dimakamkan.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Jasman Panjaitan mengatakan, ketiga terpidana mati tidak melakukan perlawanan saat menjalani proses eksekusi. "Mereka sangat kooperatif," kata Jasman dalam jumpa pers di Kejagung di Jakarta, Minggu.

Ia menambahkan, setiap terpidana ditembak dengan satu peluru yang bersarang di dada bagian kiri atas. Menurut tim dokter, kata Jasman, para terpidana langsung meninggal beberapa saat setelah peluru mengenai sasaran.

Selain itu, lanjutnya, ketiga terpidana juga tidak ditutup dengan kain penutup mata karena diminta sendiri oleh ketiganya. "Atas permintaan ketiga terpidana, tidak dilakukan penutupan mata. Mereka tidak menyampaikan alasannya," katanya. (Joe)


Readmore ""

Kamis, 06 November 2008

cerpen: DI LUAR SKENARIO


ARIN kembali memandang wajah lelaki kerempeng itu. Matanya menghiba. Ada yang ingin ia katakan, bukan hanya satu dua patah kata. Tapi kalimat itu sangat banyak. Terlalu banyak isi hatinya yang harus diketahui lelaki yang bukan suaminya itu, tapi kini satu selimut dengannya.



Tetapi lidahnya kelu, sederet kalimat yang tinggal terucap itu tidak juga keluar dari bibir mungilnya. Hanya desah nafas keduanya, terdengar pelan di antara telinga. Siaran berita yang ditayangkan televisi 21 inchi di meja depan tempat tidurnya, semakin menenggelamkan perasaan keduanya.

"Kamu tidak bisa seperti itu. Ini sudah di luar skenario," akhirnya, kalimat itu berhasil meluncur dari bibir Arin. "Sejak awal kita sudah sepakat, ini hanya permainan. Kita sama-sama butuh seperti ini, tanpa harus melibatkan perasaan dan cinta," katanya.

Kita juga sudah berkomitmen, lanjut Arin, kapan pun kita bisa melangkah bersama dan kapan pun kita bisa pisah. Tanpa ada rasa kecewa, tanpa ada rasa menyesal. Kalau aku butuh seks, kau bisa memenuhinya. Dan kalau kau butuh seks, aku juga bisa memenuhinya. Itu saja. Tidak ada cinta, tidak ada sayang.

"Tapi kini semuanya sudah di luar skenario. Kau melanggar komitmen kita. Kau tidak memegang janji," kata Arin.

Arin masih ingat. Sejak enam setengah tahun lalu keduanya memiliki komitmen, bahwa hubungan keduanya bukanlah sebuah kasih sayang atau cinta. Apa yang mereka lakukan adalah hubungan timbal balik, suka sama suka. Seluruhnya karena dilandasi kebutuhan seks semata.

Karena adanya komitmen itulah, Arin merelakan anak semata wayangnya ikut dengan dirinya di kota ini dan tidak terlalu memberati suaminya untuk pindah mengikuti tugasnya. Arin selalu bisa memberi alasan kepada suaminya, bahwa ia tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti suaminya. Arin selalu menjelaskan kepada suaminya bahwa dirinya akan tetap merindukan kehadirannya di sampingnya.

Tetapi saat ini tidak mungkin Arin harus mengikuti suaminya. Kemampuan Arin meyakinkan suaminya, membuat suaminya akhirnya merelakan mereka harus hidup saling berjauhan. Kebutuhan suami istri hanya mereka lakukan saat suaminya pulang yang bisa dua minggu sekali.

Bagi Arin, kebutuhan seks bukanlah yang utama. Sebagai wanita, ia ingin hanya suaminya yang menyentuhnya. Sebagai istri, dirinya bisa menjaga perasaan, rasa cinta, martabat dan tubuhnya, dari jamahan pria lain. Ikrar itu ia tanamkan sejak pertama kali ia menerima pinangan calon suaminya.

Semangat itu bisa ia pertahankan selama satu tahun suaminya menjalankan tugas. Namun semuanya menjadi lain, saat Arin bertemu dengan Rifai. Laki-laki kerempeng itu sanggup memporak porandakan keteguhan hati Arin. Modalnya hanya satu, ia bisa membuat dan mengajak Arin tertawa lepas. Ia bisa membawa dan menggiring Arin untuk hidup sebagaimana layaknya wanita. Karena ia bisa memanjakan Arin.

Sudah cukup jauh perjalanan dan kebersamaan mereka jalani. Rifai bukan hanya seorang teman bagi Arin, namun juga suami. Cuma Arin tidak pernah mempertemukan Rifai dengan Harjuno, suaminya, dan Alma, anak semata wayangnya.

Arin tidak ingin ada ikatan emosi yang bisa melibatkan mereka. Ia hanya ingin, cukup dirinya saja yang mengenal Rifai. Arin kembali mendesah. Perlahan ia mencoba duduk di antara selimut tebal yang menutup tubuhnya sambil bersandar di tembok.

Ia mencoba merangkai kembali perjalanan panjang awal pertemuan dan perkenalannya dengan Rifai. Juga komitmen yang selalu ia sampaikan setiap saat Rifai mengajaknya bertemu. Meski Arin menyadari dan mengetahui, Rifai mulai melanggar komitmen mereka berdua. Rifai mulai jatuh cinta pada dirinya. Itu tidak mungkin. Itu cinta yang terlarang. Arin sudah terlalu jauh merelakan tubuh putih mulus dan langsing miliknya dijamah laki-laki itu. Itu sudah sebuah pelanggaran sumpah dan pengkhianatan cintanya pada Harjuno dan Alma.

Sebagai istri dan ibu, ia sudah tidak suci lagi. Tubuhnya sudah ternoda. Entah sudah berapa kali keduanya berhubungan bagaikan suami istri. Entah sudah berapa banyak uangyang mereka habiskan untuk menyewa hotel murahan di kota itu dan entah sudah berapa banyak dosa-dosa yang mereka rangkai. Akankan semuanya diperpanjang?

Arin seperti tidak berani lagi memandang mata suaminya dan mata bening anak perempuannya. Meski keduanya tidak mengatakan secara langsung tentang adanya ketidakberesan dalam dirinya, namun Arin sepertinya mengetahui ada tanda tanya di balik sorot mata suami dan anaknya. Arin sering menangnis sendiri di malam hari. Ia ingin mengakhiri semuanya, semua kekotoran yang terjadi. Hubungan yang dikendalikan setan itu harus berakhir sampai di sini.

Tetapi semuanya selalu gagal. Rifai sepertinya sudah kesetanan. Ia telah berubah menjadi setan yang sebenar-benarnya setan. Di otak Rifai hanya ada satu kata, hubungan seks. Karena ia mencintai Arin, maka ia bisa ngeseks kapan saja ia mau. Itu yang setiap kali dikatakan setiap mereka bertemu.

Bahkan, Rifai bisa mengirim 50 SMS yang intinya selalu mengajak berhubungan seks. Ia telah diperbudak seks. Hubungan seks adalah segala-galanya. Bahkan Rifai siap membayar hotel atau tempat lain untuk melampiaskan nafsu binatangnya.

Semua SMS bunyinya hanya menanyakan dimana mereka bisa bercinta? Setiap hari, mulai pagi hingga tengah malam. Bahkan saat ia sibuk di tempat kerjanya, SMS yang masuk dari Rifai selalu begitu. Sampai ia bosen, sampai ia muak.

Mungkin Rifai tidak pernah tahu, ia tidak pernah membaca SMS yang masuk di handphonenya. SMS itu langsung ia hapus saat masuk di handphonenya. Ia sudah tahu, setiap SMS dari Rifai selalu mengajak bercinta dan menanyakan lokasi dimana mereka bisa bercinta. Begitu, begitu, dan selalu begitu. Semasa kuliah dan di rumah orang tuanya, sepertinya ia hanya diajari kalimat soal menanyakan lokasi mereka bisa bercinta. Di tempat yang ini, itu atau dimana?

Kalau SMS itu tidak dijawab, Rifai akan meneleponnya. Menelepon dan menelepon. Terus dan terus. Dalam sepuluh menit, kalau ia tidak mengangkatnya, bisa 50 kali telepon masuk dari Rifai. Bahkan sampai terjadi, handphonenya hang hanya gara-gara menerima panggilan tak terjawab sampai 67 kali.

Rifai sudah tidak bisa dikendalikan. Ia pernah mengatakan secara baik-baik, bahwa ada yang salah dalam persahabatan mereka. Namun Rifai tidak mengerti. Sampai-sampai ia katakan terus terang, bahwa dirinya telah muak dengan sikap dan cara Rifai. Semuanya harus diakhiri sampai di sini.

Tapi apa tanggapan Rifai? Ia menangis sejadi-jadinya. Seperti anak-anak kehilangan dot susunya. Ia mengatakan kalau dirinya tidak sanggup berjalan sendiri tanpa Arin di sisinya. Ia sudah terlanjur mencintai Arin sepenuhnya.

Ia jadi binggung, bagaimana Rifai bisa mencintainya? Komitmen mereka hanya sebatas saling membutuhkan. Bukan urusan hati, bukan urusan perasaan, dan juga tidak ada kaitannya dengan cinta. Tai kucing dengan cinta.

Menghadapi Rifai, seperti Arin berhadapan dengan gajah yang tidak bisa diajak bicara. Seperti ia berhadapan dengan tembok. Rifai begitu bodoh dan tolol, ia telah mencampuradukkan cinta, perasaan dan hubungan sesaat di tempat tidur dengan dirinya.

"Ini yang terakhir. Aku harus pulang," akhirnya hanya itu kalimat yang keluar dari bibir mungil Arin. Ia berdiri, merapikan pakaian, dan mengambil tasnya. Rifai cuek, ia tersenyum.

"Besok kita di mana lagi?," tanyanya, sambil mengambil sebatang rokok dan menyalakan serta mengisapnya dalam-dalam. Arin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia diam. Memandang wajah Rifai yang kelihatan amat sangat tolol.

"Ya, Allah... Kenapa aku harus kenal dengan manusia bodoh seperti ini? Apa kata-kataku salah dan tidak bisa dimengertinya? Katanya dia itu sarjana, tetapi kenapa bodohnya seperti orang yang tidak pernah bersekolah? Aku muak dengan semuanya," katanya dalam hati. (**)

Cerpen oleh: Mimien.

Readmore ""

Selasa, 04 November 2008

POLISI SERIUS TANGGAPI WASIAT TRIO BOMBER

JAKARTA-CRIMENEWS: Teror berupa ancaman pembunuhan merebak terkait eksekusi tiga terpidana mati kasus bom Bali yakni Amrozi, Ali Ghufron alias Muklas dan Imam Samudra.


Tidak tanggung-tanggung, ancaman itu ditujukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla (SBY-JK), Jaksa Agung Hendarman Supandji, dan sejumlah pejabat pemerintah lainnya serta tokoh masyarakat.

Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Australia serta pusat perbelanjaan Blok M Kebayoran Baru di Jakarta juga tak luput diteror ancaman ledakan bom.

Ancaman pembunuhan terhadap SBY-JK muncul melalui internet. Hal tersebut membuat pihak kepolisian makin meningkatkan kesiagaannya. Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Irjen Pol Susno Duadji mengatakan, beredarnya ancaman yang dikirim melalui situs www.foznawarabbikakbah.com. itu tidak bisa dianggap remeh. Karenanya, Mabes Polri segera menyelidiki pembuat situs yang dituduh telah membuat teror tersebut.

Selain Presiden, Wakil Presiden dan Jaksa Agung, nama lain yang menjadi target ancaman itu antara lain Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalata, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kejakgung Abdul Hakim Ritonga, dan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi. Seluruh hakim dan jaksa yang terlibat dalam eksekusi mati tiga terpidana mati itu juga jadi sasaran ancaman pembunuhan.

"Situs itu isinya sudah kami buka. Langkah selanjutnya kami akan menyelidiki siapa pembuat situs, dan apa motivasi mereka," kata Susno, di Mabes Polri, Selasa (4/10).

Menurut Susno, motivasi si pembuat ancaman tersebut bisa bermacam-macam, termasuk hanya untuk mencari sensasi. Namun, tidak menutup kemungkinan pembuat ancaman merupakan kelompok yang memang bertujuan untuk menyebarkan teror.

"Muatan dalam situs internet itu ada hal yang serius dan bercanda, itu biasa. Tapi kalau yang sifatnya ancaman itu bukan biasa," ujar Susno.

Kendati demikian, Susno belum bersedia memublikasikan hasil pemeriksaan polisi soal situs ancaman itu. "Jangan dulu. Nanti kalau sudah diketahui repot jadinya," katanya.

Ancaman melalui www.foznawarabbilkakbah.com itu dimuat dalam tiga bahasa, yakni Indonesia, Arab, dan Inggris. Pengancam antara lain menyerukan perang dan mengajak kaum mukminin dan khususnya kaum mujahidin melakukan pembunuhan terhadap sejumlah individu yang terlibat dalam eksekusi Amrozi dan kawan-kawan (dkk).

Sementara itu tentang ancaman bom, seperti diwartakan harian Suara Karya, ancaman terhadap Kedubes AS dan Australia dikirim melalui SMS ke nomor HP 1717, sekitar pukul 06.30 WIB. Satu tim Gegana Polda Metro Jaya segera bergerak menyisir Kedubes AS di Jl Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Penyisiran selesai pukul 09.00 WIB dan situasi aman-aman saja.

Hal serupa juga dilakukan tim Gegana di Kedubes Australia, Jl HR Rasuna Said. Meski ancaman tidak terbukti, Polda menambah personelnya untuk mengamankan dua objek vital tersebut. "Penambahan personel sesuai perintah pimpinan dan hal ini sesuai protap (prosedur tetap)," kata AKP Suliyanto, Ketua Tim Gegana Polda.

Pada Senin malam, tim Gegana juga menyisir kawasan Blok M, Jakarta Selatan, menyusul isu adanya bom di pusat perbelanjaan dan terminal yang setiap hari ramai dikunjungi masyarakat. "Pelaku teror di ketiga tempat ini, orang yang sama serta menggunakan nomor ponsel yang sama," kata Kasubbid Humas Polda AKBP H Mahbub kepada wartawan di Mapolda, kemarin.

Ia menambahkan, pihaknya kini tengah memburu pelaku teror melalui pesan pendek (SMS) di telepon seluler yang nomornya sudah diketahui. "Kita berkerja sama dengan pihak operator nomor telepon seluler untuk melacak pemilik nomor tersebut," kata Mahbub.

Selain melakukan pelacakan terhadap nomor pelaku, kepolisian juga akan melakukan penjagaan lebih ketat terhadap objek-objek vital, khususnya kedutaan-kedutaan besar di Jakarta.

Di Istana, juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng mengatakan, Istana tidak main-main dengan ancaman ini. "Ini merupakan bentuk teror terhadap pejabat negara. Di negara-negara di seluruh dunia ancaman-ancaman seperti itu adalah melanggar UU. Pada dasarnya adalah teror, karena itu kita serius menyikapi," ujar Andi.

Aparat negara, kata Andi, melalui kepolisian, Badan Intelijen Negara (BIN), dan pihak terkait segera mengambil langkah tepat untuk menindaklanjuti ancaman terhadap SBY dan pejabat tinggi negara tersebut.

Menurut Andi, eksekusi terhadap Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron alias Muklas merupakan keputusan hukum berkekuatan tetap yang harus dilaksanakan. "Eksekusi itu kan urusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap dan kita jalankan keputusan itu," ujarnya.

Membuat dan menyebarkan situs ancaman pembunuhan terhadap Presiden, menurut Andi, pada dasarnya adalah perbuatan terorisme dan negara tidak boleh kalah dari perbuatan terorisme.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Jasman Pandjaitan saat dikonfirmasi, Selasa, mengakui pimpinan Kejagung sudah mendengar adanya ancaman tersebut. Namun demikian, pihaknya beranggapan bahwa persoalan eksekusi Amrozi sepenuhnya merupakan persoalan hukum, bukan politik. "Saya no comment," kata Jasman.

Terkait pengamanan pimpinan Kejagung, Hendarman Supandji dan Jampidum Abdul Hakim Ritonga, Jasman menegaskan hal itu sudah diatur dalam prosedur tetap pengamanan.

Saat ditemui wartawan, Jaksa Agung Hendarman Supandji bungkam ketika ditanya soal ancaman pembunuhan terhadap dirinya. Hendarman hanya melengggang menuju mobil dinasnya, sambil mengangkat tangan kanan menanggapi wartawan yang mengejarnya.

Sementara itu, Kejagung telah menunjuk tim jaksa eksekutor tiga terpidana mati kasus Bom Bali I, yakni Amrozi, Ali Ghufron alias Muklas, dan Imam Samudra. Tim jaksa eksekutor itu berasal dari jajaran Kejati Jawa Tengah dan Kejati Bali.

Kapuspenkum Kejagung Jasman Pandjaitan menerangkan, tugas jaksa eksekutor hanya menyangkut aspek yuridisnya, sedangkan untuk eksekusinya dilakukan oleh pihak kepolisian.(Joe)




Readmore ""

TIMAH PANAS BAGI POLISI YANG BEKINGI PREMAN


JAKARTA-CRIMENEWS: Bukan zamannya lagi membekingi tindak kejahatan, termasuk membekingi aksi premanisme. Karena siapa pun yang menjadi beking, harus bersiap-siap berhadapan dengan polisi. Bahkan, polisi siap menembak para beking itu, termasuk jika yang menjadi beking adalah polisi sendiri.



Penyataan keras ini, disampaikan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri Irjen Pol Susno Duaji, kepada wartawan di Mabes Polri, Selasa (4/11/2008).

"Kalau ada anggota yang membekingi atau menghalangi penangkapan pelaku kejahatan, kita akan tindak tegas. Kita dor. Karena anggota itu sama saja mbah-nya preman," katanya.

Susno menambahkan, siapa pun yang membekingi preman, maka dia adalah preman juga, tidak peduli berdasi, polisi, TNI maupun anggota-anggota lainnya.

Mengenai organisasi massa yang melakukan tindakan premanisme, Susno menjelaskan, polisi tetap akan menindak karena perilaku dari anggota ormas tersebut yang meresahkan masyarakat.

"Polisi tidak melihat bentuk atau apa itu ormasnya, kita tindak karena kelakuannya. Jadi murni yang kita tindak adalah manusianya," katanya menegaskan.

Sementara itu, puluhan orang, yang diduga sebagai preman yang dianggap telah meresahkan, terjaring operasi razia yang digelar aparat kepolisian di sejumlah titik keramaian di Jakarta Timur.

Menurut Kapolsek Metro Jatinegara, Polres Jakarta Timur, AKP Sriyanto, razia dilakukan selain sebagai operasi rutin pengamanan, juga untuk menekan tingkat kriminalitas. Razia digelar antara lain di Terminal Kampung Melayu dan Stasiun Kereta Api Jatinegara.

Polres Metro Jakarta Timur menerjunkan sekitar 100 aparatnya yang setara dengan satu Satuan Setingkat Kompi (SSK), serta sejumlah kendaraan angkutan tahanan. (Joe)

Readmore ""

Senin, 03 November 2008

TIGA LEDAKAN DI TENGAH PERINTAH SIAGA 1

TERNATE-CRIMENEWS: Aparat keamanan di Provinsi Maluku Utara (Malut) kecolongan dengan meledaknya tiga bom berkekuatan rendah, Senin (3/11/2008). Ledakan itu terjadi hanya berselang tiga hari setelah Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri memerintahkan agar setiap Polda meningkatkan kesiagaan menjelang pelaksanaan eksekusi trio bomber Bali.



Tiga ledakan berkekuatan rendah itu terjadi di tiga lokasi di kota Ternate, yaitu di rumah kediaman gubernur, Kantor Pemerintah Provinsi Maluku Utara, dan Gedung DPRD Maluku Utara, pada Senin pukul 02.30 WIT. Polisi mencatat, tidak ada korban jiwa dalam ledakan ini.

Berdasarkan data, ledakan pertama terjadi di rumah dinas Gubernur Maluku Utara Thaib Armaiyn, yang mengakibatkan kerusakan di samping kiri rumah yang berlokasi di Jalan Kapten Pattimura, Ternate.

Hanya berselang sekitar lima menit kemudian, sebuah ledakan juga terjadi di Kantor Gubernur Maluku Utara di Jalan Pahlawan Revolusi. Lokasi ledakan pertama dan kedua ini berjarak sekitar satu kilometer. Akibat ledakan ini sebagian besar plafon ruangan Biro Keuangan hancur.

Ledakan ketiga, ternjadi di Gedung DPRD di Jalan Stadion. Akibat ledakan ini sebagian kaca ruang pos penjagaan kantor wakil rakyat itu pecah.

Sejumlah warga mengungkapkan, suara ledakan terdengar hingga radius 5-6 kilometer dari pusat kejadian.

Ketiga ledakan ini, diduga terkait dengan aksi protes hasil pilkada Gubernur di wilayah itu. Dan bukan terkait rencana pelaksanaan eksekusi trio bomber Bali.

Kapolres Ternate AKBP Ahmad Marhaendra, di lokasi kejadian, mengungkapkan, untuk menyelidiki kejadian ini, pihaknya menurunkan tim reskrim.

Sementara itu, Polda Maluku Utara telah memeriksa enam orang saksi terkait dengan tiga ledakan itu.

Di Jakarta, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira mengatakan, hingga kini polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus ini.

Dalam penyisiran, polisi menemukan satu bom molotov yang terbuat dari kaleng namun tidak berisi bensin dan hanya memiliki sumbu.

Abubakar mengatakan, tim forensik, identifikasi dan penyidik Polri telah menyelidiki kasus ini untuk mengetahui materi bahan peledak dan motif peledakan. Motif peledakan masih belum diketahui karena belum ada tersangka dalam kasus ini. (Joe)

Readmore ""