Kamis, 06 November 2008

cerpen: DI LUAR SKENARIO


ARIN kembali memandang wajah lelaki kerempeng itu. Matanya menghiba. Ada yang ingin ia katakan, bukan hanya satu dua patah kata. Tapi kalimat itu sangat banyak. Terlalu banyak isi hatinya yang harus diketahui lelaki yang bukan suaminya itu, tapi kini satu selimut dengannya.



Tetapi lidahnya kelu, sederet kalimat yang tinggal terucap itu tidak juga keluar dari bibir mungilnya. Hanya desah nafas keduanya, terdengar pelan di antara telinga. Siaran berita yang ditayangkan televisi 21 inchi di meja depan tempat tidurnya, semakin menenggelamkan perasaan keduanya.

"Kamu tidak bisa seperti itu. Ini sudah di luar skenario," akhirnya, kalimat itu berhasil meluncur dari bibir Arin. "Sejak awal kita sudah sepakat, ini hanya permainan. Kita sama-sama butuh seperti ini, tanpa harus melibatkan perasaan dan cinta," katanya.

Kita juga sudah berkomitmen, lanjut Arin, kapan pun kita bisa melangkah bersama dan kapan pun kita bisa pisah. Tanpa ada rasa kecewa, tanpa ada rasa menyesal. Kalau aku butuh seks, kau bisa memenuhinya. Dan kalau kau butuh seks, aku juga bisa memenuhinya. Itu saja. Tidak ada cinta, tidak ada sayang.

"Tapi kini semuanya sudah di luar skenario. Kau melanggar komitmen kita. Kau tidak memegang janji," kata Arin.

Arin masih ingat. Sejak enam setengah tahun lalu keduanya memiliki komitmen, bahwa hubungan keduanya bukanlah sebuah kasih sayang atau cinta. Apa yang mereka lakukan adalah hubungan timbal balik, suka sama suka. Seluruhnya karena dilandasi kebutuhan seks semata.

Karena adanya komitmen itulah, Arin merelakan anak semata wayangnya ikut dengan dirinya di kota ini dan tidak terlalu memberati suaminya untuk pindah mengikuti tugasnya. Arin selalu bisa memberi alasan kepada suaminya, bahwa ia tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti suaminya. Arin selalu menjelaskan kepada suaminya bahwa dirinya akan tetap merindukan kehadirannya di sampingnya.

Tetapi saat ini tidak mungkin Arin harus mengikuti suaminya. Kemampuan Arin meyakinkan suaminya, membuat suaminya akhirnya merelakan mereka harus hidup saling berjauhan. Kebutuhan suami istri hanya mereka lakukan saat suaminya pulang yang bisa dua minggu sekali.

Bagi Arin, kebutuhan seks bukanlah yang utama. Sebagai wanita, ia ingin hanya suaminya yang menyentuhnya. Sebagai istri, dirinya bisa menjaga perasaan, rasa cinta, martabat dan tubuhnya, dari jamahan pria lain. Ikrar itu ia tanamkan sejak pertama kali ia menerima pinangan calon suaminya.

Semangat itu bisa ia pertahankan selama satu tahun suaminya menjalankan tugas. Namun semuanya menjadi lain, saat Arin bertemu dengan Rifai. Laki-laki kerempeng itu sanggup memporak porandakan keteguhan hati Arin. Modalnya hanya satu, ia bisa membuat dan mengajak Arin tertawa lepas. Ia bisa membawa dan menggiring Arin untuk hidup sebagaimana layaknya wanita. Karena ia bisa memanjakan Arin.

Sudah cukup jauh perjalanan dan kebersamaan mereka jalani. Rifai bukan hanya seorang teman bagi Arin, namun juga suami. Cuma Arin tidak pernah mempertemukan Rifai dengan Harjuno, suaminya, dan Alma, anak semata wayangnya.

Arin tidak ingin ada ikatan emosi yang bisa melibatkan mereka. Ia hanya ingin, cukup dirinya saja yang mengenal Rifai. Arin kembali mendesah. Perlahan ia mencoba duduk di antara selimut tebal yang menutup tubuhnya sambil bersandar di tembok.

Ia mencoba merangkai kembali perjalanan panjang awal pertemuan dan perkenalannya dengan Rifai. Juga komitmen yang selalu ia sampaikan setiap saat Rifai mengajaknya bertemu. Meski Arin menyadari dan mengetahui, Rifai mulai melanggar komitmen mereka berdua. Rifai mulai jatuh cinta pada dirinya. Itu tidak mungkin. Itu cinta yang terlarang. Arin sudah terlalu jauh merelakan tubuh putih mulus dan langsing miliknya dijamah laki-laki itu. Itu sudah sebuah pelanggaran sumpah dan pengkhianatan cintanya pada Harjuno dan Alma.

Sebagai istri dan ibu, ia sudah tidak suci lagi. Tubuhnya sudah ternoda. Entah sudah berapa kali keduanya berhubungan bagaikan suami istri. Entah sudah berapa banyak uangyang mereka habiskan untuk menyewa hotel murahan di kota itu dan entah sudah berapa banyak dosa-dosa yang mereka rangkai. Akankan semuanya diperpanjang?

Arin seperti tidak berani lagi memandang mata suaminya dan mata bening anak perempuannya. Meski keduanya tidak mengatakan secara langsung tentang adanya ketidakberesan dalam dirinya, namun Arin sepertinya mengetahui ada tanda tanya di balik sorot mata suami dan anaknya. Arin sering menangnis sendiri di malam hari. Ia ingin mengakhiri semuanya, semua kekotoran yang terjadi. Hubungan yang dikendalikan setan itu harus berakhir sampai di sini.

Tetapi semuanya selalu gagal. Rifai sepertinya sudah kesetanan. Ia telah berubah menjadi setan yang sebenar-benarnya setan. Di otak Rifai hanya ada satu kata, hubungan seks. Karena ia mencintai Arin, maka ia bisa ngeseks kapan saja ia mau. Itu yang setiap kali dikatakan setiap mereka bertemu.

Bahkan, Rifai bisa mengirim 50 SMS yang intinya selalu mengajak berhubungan seks. Ia telah diperbudak seks. Hubungan seks adalah segala-galanya. Bahkan Rifai siap membayar hotel atau tempat lain untuk melampiaskan nafsu binatangnya.

Semua SMS bunyinya hanya menanyakan dimana mereka bisa bercinta? Setiap hari, mulai pagi hingga tengah malam. Bahkan saat ia sibuk di tempat kerjanya, SMS yang masuk dari Rifai selalu begitu. Sampai ia bosen, sampai ia muak.

Mungkin Rifai tidak pernah tahu, ia tidak pernah membaca SMS yang masuk di handphonenya. SMS itu langsung ia hapus saat masuk di handphonenya. Ia sudah tahu, setiap SMS dari Rifai selalu mengajak bercinta dan menanyakan lokasi dimana mereka bisa bercinta. Begitu, begitu, dan selalu begitu. Semasa kuliah dan di rumah orang tuanya, sepertinya ia hanya diajari kalimat soal menanyakan lokasi mereka bisa bercinta. Di tempat yang ini, itu atau dimana?

Kalau SMS itu tidak dijawab, Rifai akan meneleponnya. Menelepon dan menelepon. Terus dan terus. Dalam sepuluh menit, kalau ia tidak mengangkatnya, bisa 50 kali telepon masuk dari Rifai. Bahkan sampai terjadi, handphonenya hang hanya gara-gara menerima panggilan tak terjawab sampai 67 kali.

Rifai sudah tidak bisa dikendalikan. Ia pernah mengatakan secara baik-baik, bahwa ada yang salah dalam persahabatan mereka. Namun Rifai tidak mengerti. Sampai-sampai ia katakan terus terang, bahwa dirinya telah muak dengan sikap dan cara Rifai. Semuanya harus diakhiri sampai di sini.

Tapi apa tanggapan Rifai? Ia menangis sejadi-jadinya. Seperti anak-anak kehilangan dot susunya. Ia mengatakan kalau dirinya tidak sanggup berjalan sendiri tanpa Arin di sisinya. Ia sudah terlanjur mencintai Arin sepenuhnya.

Ia jadi binggung, bagaimana Rifai bisa mencintainya? Komitmen mereka hanya sebatas saling membutuhkan. Bukan urusan hati, bukan urusan perasaan, dan juga tidak ada kaitannya dengan cinta. Tai kucing dengan cinta.

Menghadapi Rifai, seperti Arin berhadapan dengan gajah yang tidak bisa diajak bicara. Seperti ia berhadapan dengan tembok. Rifai begitu bodoh dan tolol, ia telah mencampuradukkan cinta, perasaan dan hubungan sesaat di tempat tidur dengan dirinya.

"Ini yang terakhir. Aku harus pulang," akhirnya hanya itu kalimat yang keluar dari bibir mungil Arin. Ia berdiri, merapikan pakaian, dan mengambil tasnya. Rifai cuek, ia tersenyum.

"Besok kita di mana lagi?," tanyanya, sambil mengambil sebatang rokok dan menyalakan serta mengisapnya dalam-dalam. Arin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia diam. Memandang wajah Rifai yang kelihatan amat sangat tolol.

"Ya, Allah... Kenapa aku harus kenal dengan manusia bodoh seperti ini? Apa kata-kataku salah dan tidak bisa dimengertinya? Katanya dia itu sarjana, tetapi kenapa bodohnya seperti orang yang tidak pernah bersekolah? Aku muak dengan semuanya," katanya dalam hati. (**)

Cerpen oleh: Mimien.

Readmore ""

Selasa, 04 November 2008

POLISI SERIUS TANGGAPI WASIAT TRIO BOMBER

JAKARTA-CRIMENEWS: Teror berupa ancaman pembunuhan merebak terkait eksekusi tiga terpidana mati kasus bom Bali yakni Amrozi, Ali Ghufron alias Muklas dan Imam Samudra.


Tidak tanggung-tanggung, ancaman itu ditujukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla (SBY-JK), Jaksa Agung Hendarman Supandji, dan sejumlah pejabat pemerintah lainnya serta tokoh masyarakat.

Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Australia serta pusat perbelanjaan Blok M Kebayoran Baru di Jakarta juga tak luput diteror ancaman ledakan bom.

Ancaman pembunuhan terhadap SBY-JK muncul melalui internet. Hal tersebut membuat pihak kepolisian makin meningkatkan kesiagaannya. Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Irjen Pol Susno Duadji mengatakan, beredarnya ancaman yang dikirim melalui situs www.foznawarabbikakbah.com. itu tidak bisa dianggap remeh. Karenanya, Mabes Polri segera menyelidiki pembuat situs yang dituduh telah membuat teror tersebut.

Selain Presiden, Wakil Presiden dan Jaksa Agung, nama lain yang menjadi target ancaman itu antara lain Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalata, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kejakgung Abdul Hakim Ritonga, dan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi. Seluruh hakim dan jaksa yang terlibat dalam eksekusi mati tiga terpidana mati itu juga jadi sasaran ancaman pembunuhan.

"Situs itu isinya sudah kami buka. Langkah selanjutnya kami akan menyelidiki siapa pembuat situs, dan apa motivasi mereka," kata Susno, di Mabes Polri, Selasa (4/10).

Menurut Susno, motivasi si pembuat ancaman tersebut bisa bermacam-macam, termasuk hanya untuk mencari sensasi. Namun, tidak menutup kemungkinan pembuat ancaman merupakan kelompok yang memang bertujuan untuk menyebarkan teror.

"Muatan dalam situs internet itu ada hal yang serius dan bercanda, itu biasa. Tapi kalau yang sifatnya ancaman itu bukan biasa," ujar Susno.

Kendati demikian, Susno belum bersedia memublikasikan hasil pemeriksaan polisi soal situs ancaman itu. "Jangan dulu. Nanti kalau sudah diketahui repot jadinya," katanya.

Ancaman melalui www.foznawarabbilkakbah.com itu dimuat dalam tiga bahasa, yakni Indonesia, Arab, dan Inggris. Pengancam antara lain menyerukan perang dan mengajak kaum mukminin dan khususnya kaum mujahidin melakukan pembunuhan terhadap sejumlah individu yang terlibat dalam eksekusi Amrozi dan kawan-kawan (dkk).

Sementara itu tentang ancaman bom, seperti diwartakan harian Suara Karya, ancaman terhadap Kedubes AS dan Australia dikirim melalui SMS ke nomor HP 1717, sekitar pukul 06.30 WIB. Satu tim Gegana Polda Metro Jaya segera bergerak menyisir Kedubes AS di Jl Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Penyisiran selesai pukul 09.00 WIB dan situasi aman-aman saja.

Hal serupa juga dilakukan tim Gegana di Kedubes Australia, Jl HR Rasuna Said. Meski ancaman tidak terbukti, Polda menambah personelnya untuk mengamankan dua objek vital tersebut. "Penambahan personel sesuai perintah pimpinan dan hal ini sesuai protap (prosedur tetap)," kata AKP Suliyanto, Ketua Tim Gegana Polda.

Pada Senin malam, tim Gegana juga menyisir kawasan Blok M, Jakarta Selatan, menyusul isu adanya bom di pusat perbelanjaan dan terminal yang setiap hari ramai dikunjungi masyarakat. "Pelaku teror di ketiga tempat ini, orang yang sama serta menggunakan nomor ponsel yang sama," kata Kasubbid Humas Polda AKBP H Mahbub kepada wartawan di Mapolda, kemarin.

Ia menambahkan, pihaknya kini tengah memburu pelaku teror melalui pesan pendek (SMS) di telepon seluler yang nomornya sudah diketahui. "Kita berkerja sama dengan pihak operator nomor telepon seluler untuk melacak pemilik nomor tersebut," kata Mahbub.

Selain melakukan pelacakan terhadap nomor pelaku, kepolisian juga akan melakukan penjagaan lebih ketat terhadap objek-objek vital, khususnya kedutaan-kedutaan besar di Jakarta.

Di Istana, juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng mengatakan, Istana tidak main-main dengan ancaman ini. "Ini merupakan bentuk teror terhadap pejabat negara. Di negara-negara di seluruh dunia ancaman-ancaman seperti itu adalah melanggar UU. Pada dasarnya adalah teror, karena itu kita serius menyikapi," ujar Andi.

Aparat negara, kata Andi, melalui kepolisian, Badan Intelijen Negara (BIN), dan pihak terkait segera mengambil langkah tepat untuk menindaklanjuti ancaman terhadap SBY dan pejabat tinggi negara tersebut.

Menurut Andi, eksekusi terhadap Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron alias Muklas merupakan keputusan hukum berkekuatan tetap yang harus dilaksanakan. "Eksekusi itu kan urusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap dan kita jalankan keputusan itu," ujarnya.

Membuat dan menyebarkan situs ancaman pembunuhan terhadap Presiden, menurut Andi, pada dasarnya adalah perbuatan terorisme dan negara tidak boleh kalah dari perbuatan terorisme.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Jasman Pandjaitan saat dikonfirmasi, Selasa, mengakui pimpinan Kejagung sudah mendengar adanya ancaman tersebut. Namun demikian, pihaknya beranggapan bahwa persoalan eksekusi Amrozi sepenuhnya merupakan persoalan hukum, bukan politik. "Saya no comment," kata Jasman.

Terkait pengamanan pimpinan Kejagung, Hendarman Supandji dan Jampidum Abdul Hakim Ritonga, Jasman menegaskan hal itu sudah diatur dalam prosedur tetap pengamanan.

Saat ditemui wartawan, Jaksa Agung Hendarman Supandji bungkam ketika ditanya soal ancaman pembunuhan terhadap dirinya. Hendarman hanya melengggang menuju mobil dinasnya, sambil mengangkat tangan kanan menanggapi wartawan yang mengejarnya.

Sementara itu, Kejagung telah menunjuk tim jaksa eksekutor tiga terpidana mati kasus Bom Bali I, yakni Amrozi, Ali Ghufron alias Muklas, dan Imam Samudra. Tim jaksa eksekutor itu berasal dari jajaran Kejati Jawa Tengah dan Kejati Bali.

Kapuspenkum Kejagung Jasman Pandjaitan menerangkan, tugas jaksa eksekutor hanya menyangkut aspek yuridisnya, sedangkan untuk eksekusinya dilakukan oleh pihak kepolisian.(Joe)




Readmore ""

TIMAH PANAS BAGI POLISI YANG BEKINGI PREMAN


JAKARTA-CRIMENEWS: Bukan zamannya lagi membekingi tindak kejahatan, termasuk membekingi aksi premanisme. Karena siapa pun yang menjadi beking, harus bersiap-siap berhadapan dengan polisi. Bahkan, polisi siap menembak para beking itu, termasuk jika yang menjadi beking adalah polisi sendiri.



Penyataan keras ini, disampaikan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri Irjen Pol Susno Duaji, kepada wartawan di Mabes Polri, Selasa (4/11/2008).

"Kalau ada anggota yang membekingi atau menghalangi penangkapan pelaku kejahatan, kita akan tindak tegas. Kita dor. Karena anggota itu sama saja mbah-nya preman," katanya.

Susno menambahkan, siapa pun yang membekingi preman, maka dia adalah preman juga, tidak peduli berdasi, polisi, TNI maupun anggota-anggota lainnya.

Mengenai organisasi massa yang melakukan tindakan premanisme, Susno menjelaskan, polisi tetap akan menindak karena perilaku dari anggota ormas tersebut yang meresahkan masyarakat.

"Polisi tidak melihat bentuk atau apa itu ormasnya, kita tindak karena kelakuannya. Jadi murni yang kita tindak adalah manusianya," katanya menegaskan.

Sementara itu, puluhan orang, yang diduga sebagai preman yang dianggap telah meresahkan, terjaring operasi razia yang digelar aparat kepolisian di sejumlah titik keramaian di Jakarta Timur.

Menurut Kapolsek Metro Jatinegara, Polres Jakarta Timur, AKP Sriyanto, razia dilakukan selain sebagai operasi rutin pengamanan, juga untuk menekan tingkat kriminalitas. Razia digelar antara lain di Terminal Kampung Melayu dan Stasiun Kereta Api Jatinegara.

Polres Metro Jakarta Timur menerjunkan sekitar 100 aparatnya yang setara dengan satu Satuan Setingkat Kompi (SSK), serta sejumlah kendaraan angkutan tahanan. (Joe)

Readmore ""

Senin, 03 November 2008

TIGA LEDAKAN DI TENGAH PERINTAH SIAGA 1

TERNATE-CRIMENEWS: Aparat keamanan di Provinsi Maluku Utara (Malut) kecolongan dengan meledaknya tiga bom berkekuatan rendah, Senin (3/11/2008). Ledakan itu terjadi hanya berselang tiga hari setelah Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri memerintahkan agar setiap Polda meningkatkan kesiagaan menjelang pelaksanaan eksekusi trio bomber Bali.



Tiga ledakan berkekuatan rendah itu terjadi di tiga lokasi di kota Ternate, yaitu di rumah kediaman gubernur, Kantor Pemerintah Provinsi Maluku Utara, dan Gedung DPRD Maluku Utara, pada Senin pukul 02.30 WIT. Polisi mencatat, tidak ada korban jiwa dalam ledakan ini.

Berdasarkan data, ledakan pertama terjadi di rumah dinas Gubernur Maluku Utara Thaib Armaiyn, yang mengakibatkan kerusakan di samping kiri rumah yang berlokasi di Jalan Kapten Pattimura, Ternate.

Hanya berselang sekitar lima menit kemudian, sebuah ledakan juga terjadi di Kantor Gubernur Maluku Utara di Jalan Pahlawan Revolusi. Lokasi ledakan pertama dan kedua ini berjarak sekitar satu kilometer. Akibat ledakan ini sebagian besar plafon ruangan Biro Keuangan hancur.

Ledakan ketiga, ternjadi di Gedung DPRD di Jalan Stadion. Akibat ledakan ini sebagian kaca ruang pos penjagaan kantor wakil rakyat itu pecah.

Sejumlah warga mengungkapkan, suara ledakan terdengar hingga radius 5-6 kilometer dari pusat kejadian.

Ketiga ledakan ini, diduga terkait dengan aksi protes hasil pilkada Gubernur di wilayah itu. Dan bukan terkait rencana pelaksanaan eksekusi trio bomber Bali.

Kapolres Ternate AKBP Ahmad Marhaendra, di lokasi kejadian, mengungkapkan, untuk menyelidiki kejadian ini, pihaknya menurunkan tim reskrim.

Sementara itu, Polda Maluku Utara telah memeriksa enam orang saksi terkait dengan tiga ledakan itu.

Di Jakarta, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira mengatakan, hingga kini polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus ini.

Dalam penyisiran, polisi menemukan satu bom molotov yang terbuat dari kaleng namun tidak berisi bensin dan hanya memiliki sumbu.

Abubakar mengatakan, tim forensik, identifikasi dan penyidik Polri telah menyelidiki kasus ini untuk mengetahui materi bahan peledak dan motif peledakan. Motif peledakan masih belum diketahui karena belum ada tersangka dalam kasus ini. (Joe)

Readmore ""

SIAGA INI BUKAN KARENA TAKUT


MESKI belum jelas kapan pelaksanaan eksekusi trio bomber Bali dan tingkat ancaman terorisme yang mungkin terjadi, namun Polda Metro Jaya dan Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) menyatakan status keamanan di wilayahnya sebagai Siaga 1.



Dengan status Siaga 1, berarti tiga per empat pasukan di wilayah hukum kepolisian itu dalam keadaan siaga penuh. Tidak ada izin cuti atau meninggalkan tugas selama pemberlakuan status siaga.

Menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Adang Firman, pihaknya sudah melakukan pengamanan sejumlah obyek vital, seperti kedutaan besar, pusat perbelanjaan dan mal-mal. "Pokoknya semua obyek vital," kata Adang Firman, usai menghadiri upacara serahterima jabatan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) di Jakarta, Senin (3/11/2008).

Ia mengatakan, pemberlakuan status siaga I bagi Jakarta dan sekitarnya mulai diberlakukan sejak 1 November 2008 sampai situasi benar-benar dianggap kondusif.

Dari Makassar, Kepala Bidang Humas Polda Sulselbar Kombes Pol Heri Subiansuri, mengatakan, perhatian utama difokuskan di perbatasan Poso-Luwu Timur (Sulteng-Sulsel) yang selama ini aparatnya sangat minim.

Meski tak berdampak langsung di Makassar, tapi dengan terbatasnya aparat kepolisian dibanding luas wilayah kerja, membuat kepolisian harus bekerja ekstra siaga.

Kepolisian tak ingin kecolongan menjelang eksekusi mati tersebut. "Karena itu, mulai hari ini (Minggu) kami berpatroli ke seluruh wilayah kerja Polda. Kami pantau selama 24 jam," katanya menegaskan.

Sementara itu, Panglima Kodam V/Brawijaya Mayjen TNI Suwarno mengatakan, situasi keamanan di Jawa Timur kondusif menjelang pelaksanaan eksekusi dan pilkada putaran kedua pada 4 November 2008.

"Sampai saat ini wilayah Jatim masih kondusif, baik untuk pilkada putaran kedua mendatang dan menjelang eksekusi Amrozi dan kawan-kawan," katanya.

Ia mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan kepolisian setempat untuk mengamankan dan menciptakan situasi keamanan yang kondusif di wilayah Jatim.

Sebelumnya, Mabes Polri telah menginstruksikan kepada seluruh Polda untuk meningkatkan pengamanan menjelang pelaksanaan eksekusi tiga terpidana mati Bom Bali I.

Ketika ditanya wartawan, apakah peningkatan status keamanan ini karena polisi ketakutan, menurut Kepala Divisi Humas (Div Humas) Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira, persiapan pengamanan ini bukan sebagai bentuk ketakutan. "Kita memang mewaspadai, tapi tidak ada yang menakutkan, kita biasa saja," tegasnya. (Joe)

Readmore ""

Minggu, 02 November 2008

DETIK-DETIK MENUNGGU EKSEKUSI


Amrozi, Ali Gufron, dan Imam Samudra, tiga terpidana mati kasus bom Bali 2002 kini tinggal menunggu ajal didepan regu tembak Bribom Polda Jawa Tengah (Jateng). Detik-detik menegangkan itu terjadi setelah pihak Kejagung mengumumkan akan melakukan eksekusi pada awal Nopember 2008.



Kepastian akan dilakukannya eksekusi tersebut semakin kentara setelah konsentrasi petugas dari beberapa instansi tampak mengalami peningkatan di Pulau Nusakambangan, Jateng, tempat Amrozi dan kawan-kawan menjalani penahanan.

Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso mengakui kalau pihaknya telah menyiapkan regu tembak untuk ambil bagian dalam pelaksanaan eksekusi tiga terpidana mati kasus bom Bali 2002.

Menurut Kapolri, eksekusi harus dilaksanakan. Karena perbuatan pidana yang dilakukan Amrozi dan kawan-kawan telah memiliki kekuatan hukum yang tetap.

Pengamanan dalam rangka eksekusi mati Amrozi cs juga dilakukan di perairan di sekitar Pulau Nusakambangan. Menurut Kepala Satuan Polisi Air (Satpol Air) Polres Cilacap, AKP Sugeng Hartono, pengamanan dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya orang-orang yang tidak bertanggung jawab ke pulau itu.

Menurut dia, pihaknya juga melakukan pengawasan terhadap nelayan yang biasa mencari ikan di perairan tersebut dengan diimbau untuk tidak terlalu dekat dengan Nusakambangan.

Pihaknya terus mengupayakan agar Nusakambangan tetap steril dari orang-orang yang tidak berkepentingan. Bahkan, untuk memperkuat pengamanan perairan, Satpol Air Cilacap mendapat penambahan pasukan sebanyak 10 personel dari Polda Jawa Tengah.

Selain dilakukan oleh Satpol Air Polres Cilacap, Kantor Administratur Pelabuhan (Adpel) Tanjung Intan Cilacap juga meningkatkan patroli perairannya.

"Patroli kita tingkatkan dari delapan kali sehari menjadi 10 kali sehari," kata Kasi Penjagaan dan Penyelamatan Adpel Tanjung Intan Cilacap, Aher Priyatno.

Menurut dia, patroli tersebut dilakukan di perairan di sekitar Nusakambangan khususnya kawasan Segara Anakan yakni dari Plawangan Barat hingga Plawangan Timur.

Kapal Patroli KN5 70 milik Adpel Tanjung Intan Cilacap tampak berpatroli menyusuri perairan Segara Anakan di sebelah utara Nusakambangan yang membatasi pulau itu dengan daratan Cilacap.

Sementara itu di Cilacap, Polres setempat terus menggelar operasi terhadap kendaraan bermotor roda dua maupun empat. Operasi yang berbendera "Bulan Tertib Lalu Lintas (BTL) Seri 3" tersebut, dimungkinkan erat kaitannya dengan pengamanan menjelang eksekusi Amrozi dkk lantaran tidak hanya digelar pada siang hari tetapi juga malam hari.

Selain operasi yang digelar Polres Cilacap, Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbanglinmas) Kabupaten Cilacap bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) setempat menggelar operasi yustisi kependudukan di wilayah sekitar Pulau Nusakambangan.

Kepala Bakesbanglinmas Cilacap, Yayan Rusyawan Effendi mengatakan, operasi yang melibatkan unsur TNI dan Polri telah dilakukan sejak tahun 2000 lalu.

Pelaksanaan eksekusi mati Amrozi cs tinggal menunggu hari. Kendaraan tempur dan bom milik Polda Jateng yang semula berada di Polres Cilacap, sudah bergeser mendekati perairan Nusakambangan.

Dua kendaraan berupa mobil antibom Barakuda Gegana Polda Jateng dan mobil Jihandak Gegana Brimobda Jateng, bergerak menuju Kesatrian Amirul Isnaeni Pusat Pendidikan Kopassus Cilacap yang berada di seberang Pulau Nusakambangan.

Selain dua kendaraan tersebut, satu regu Brimob juga turut serta untuk memperkuat satu regu Brimob yang telah ada di tempat itu. Persiapan tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengamanan yang signifikan dan dimungkinkan adanya penambahan pasukan.

Keluarga Tak Yakin

Namun dari pihak keluarga para terpidana mati, hingga saat ini tidak yakin jika Amrozi dkk akan dieksekusi. Adik kandung Abdul Azis alias Imam Samudera tetap merasa tidak yakin, kakaknya tersebut akan dieksekusi awal November mendatang.

Alasan ketidakyakinan pelaksanaan eksekusi itu, karena dari dulu sejak bulan puasa sudah gembar-gembor akan dieksekusi, buktinya eksekusi tidak juga dilaksanakan. "Sekarang juga saya tetap merasa tidak yakin," kata Dedi Chaidir di Serang, Banten.

Menurut dia, meskipun pihak Kejaksaan Agung sudah menyampaikan rencana eksekusi tersebut dan sudah gembar-gembor di berbagai media, ia tetap merasa tidak percaya dengan rencana itu, karena selama ini belum ada pemberitahuan kepada keluarga dan belum ada ketetapan apa pun. Dia bersama keluarga tetap tenang dan tidak begitu terlarut dengan pemberitaan itu, meskipun sedikit merasa terganggu.

Demikian juga dengan adik Imam Samudera lainnya Lulu Jamaludin yang juga kakak kandung Dedi Chaidir, tetap mengaku tidak percaya dengan rencana eksekusi tersebut. Karena, kata dia, sebelumnya pihak kejaksaan merencanakan eksekusi sebelum puasa, kemudian setelah lebaran dan sekarang awal November.

Sementara itu, keluarga Amrozi, di Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur, juga belum yakin akan adanya eksekusi itu. Kare4na sejak diumumkan secara resmi oleh Kejaksaan Agung 24 Oktober lalu, tidak ada pemberitahuan secara resmi yang disampaikan kepada keluarga di Lamongan. Termasuk dari Tim Pengacara Muslim (TPM) belum memberitahu kami rencana eksekusi itu.

Chozin mengatakan, keluarga tetap berprasangka baik dengan pertimbangan urusan kematian adalah milik Allah SWT, bukan urusan manusia. Hanya disayangkan, kalau memang benar jadwal eksekusi Amrozi Cs pada awal November, proses hukumnya dianggap terlalu cepat. (Joe)

Readmore ""

Jumat, 31 Oktober 2008

TIGA POLDA DALAM STATUS SIAGA

JAKARTA-CRIMENEWS: Markas Besar Kepolisian RI telah menginstruksikan tiga wilayah Kepolisian Daerah (Polda) untuk meningkatkan keamanan di wilayahnya masing-masing, menjelang, pada saat dan setelah pelaksanaan eksekusi terpidana mati Bom Bali I.


Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Abubakar Nataprawira kepada pers di Jakarta, Jumat (31/10/2008), tiga wilayah Polda itu, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten.

Polda Jateng diminta meningkatkan keamanannya karena menjadi wilayah tempat pelaksanaan eksekusi sekaligus lokasi penjara ketiga terpidana. Sementara, Polda Jatim dan Polda Banten, menjadi wilayah kampung halaman Amrozi dan Mukhlas, serta Imam Samudra.

"Mabes Polri belum sampai pada kesiapan pengamanan `Siaga 1`, tapi antisipasi keamanan diperketat," kata Kadiv Humas Mabes Polri.

Peningkatan keamanan akan diberlakukan ketiga wilayah kepolisian tersebut terhadap obyek-obyek vital seperti, perwakilan asing, mall, terminal dan stasiun angkutan umum, serta tempat-tempat ibadah.

Sementara itu, Panglima TNI, Jenderal TNI Djoko Santoso, mengatakan, aparat TNI memberikan bantuan pengamanan terkait pelaksanaan eksekusi tiga terpidana mati kasus bom Bali I, sesuai dengan permintaan kepolisian.

"TNI merapat ke polda (kepolisian daerah)," katanya di Magelang, Jumat, usai memimpin wisuda 531 prajurit taruna Akademi TNI tahun 2008, di Lapangan Pancasila, kompleks Akademi Militer (Akmil), lembah Gunung Tidar, Kota Magelang, Jawa Tengah.

Ia mengatakan, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri bersama staf, sudah mendatangi dirinya di Markas Besar (Mabes) TNI, di Jakarta belum lama ini, membicarakan pengamanan setiap daerah terkait pelaksanaan eksekusi itu.

Menjelang eksekusi, Pelabuhan Merak dijaga ketat petugas kepolisian Polda Banten. Puluhan personil Brimob Polda Banten dan Kepolisian Pelaksana Pengaman Pelabuhan (KPPP) Merak melakukan operasi terhadap penumpang yang hendak menyeberang Pelabuhan Bakauheni dan sebaliknya.

Penumpang pejalan kaki sebelum masuk ke kapal, terlebih dulu diperiksa petugas. Begitu pula penumpang di atas kendaraan juga mendapat pemeriksaan ketat termasuk barang-barang bawaan mereka.

Kepala KPPP Merak, AKP Sujatna, mengatakan, selama tiga hari terakhir ini pihaknya terus memperketat pengamanan di Pelabuhan Merak menyusul rencana eksekusi. Dia menyatakan, hingga saat ini pihaknya belum menemukan penumpang yang mencurigakan. (Antara/Joe)

Readmore ""