Senin, 23 Februari 2009

TIGA MINGGU YANG MELELAHKAN, NAMUN AKHIRNYA IA SEMBUH

BERITA kecelakaan yang disampaikan lewat short message service (SMS) di handphone-ku, tertanggal 31 Januari 2009, pada pukul 13.30 WIB. Namun waktu itu, aku baru membuka SMS sekitar pukul 15.30 WIB. Di SMS itu hanya dijelaskan, Nur kecelakaan dan sekarang dirawat di RS Cipondoh, Tangerang. Ternyata, ia dalam kondisi koma.


Nur adalah salah satu adikku yang berada di Jakarta. Ia bekerja sebagai salah satu tim supervisi terhadap pemasaran produk tertentu. Karena itu, dalam kesehariannya, ia harus menempuh perjalanan hingga 250 kilometer untuk mengetahui pasaran produk yang menjadi tanggungjawabnya.

Aku baru bisa mencapai rumah sakit sekitar pukul 19.00 WIB, karena jaraknya yang cukup jauh dari Depok dan aku masih harus mencari alamat rumah sakitnya.

Di rumah sakit, saat itu sudah ada suami dan keluarga dari pihal suaminya. Hampir semuanya ada. Sedang dari keluargaku hanya aku dan anakku, Deva. Tapi itu semua sudah cukup bagi kami. AKu mendapat kesempatan melihat dari dekat kondisi Nur. Ternyata ia tidak bisa bereaksi apa-apa.

Sejak kecelakaan pertama, ia dalam kondisi koma atau tidak sadarkan diri. Kondisi ini, berlangsung terus hingga tanggal 10 Februari 2009. Bayangkan, dalam kondisi koma selama 11 hari.

Selama dalam masa perawatan tiga hari pertama, aku terpaksa berbohong kepada ibu bapakku. Aku katakan kalau Nur dalam kondisi baik-baik saja. Yang mengetahui kondisi sebenarnya hanya Yani, adikku yang lain yang berada di Solo.

Namun firasat ibu mengatakan lain. Sebagai ibu, ia bisa merasakan bahwa Nur dalam kondisi yang tidak baik. AKhirnya, pada hari ke lima, ibu dan bapak diantar Edi (adikku), langsung menuju Tangerang. Mereka dijemput Mbak Atun dan suaminya yang kebetulan tinggal di Tangerang dan tidak jauh dari rumah sakit.

Dalam doa dan kasih sayang seorang ibu, Nur perlahan-lahan mulai menggerakkan anggota tubuhnya. Ia mulai sadar pada hari ke 11. Saat pertama kali ia berhasil membuka mata, wajah ibulah yang pertama kali dilihatnya. Hanya beberapa detik, setelah itu, kembali tertutup.

Ternyata, itu sinyal yang baik. Nur mulai menunjukkan kesehatan dan kesadaran. Perlahan-lahan, ia mulai menggerakkan anggota tubuh, dan bisa berbicara. Melihat perkembangan yang baik ini, kita semua menjaid bersyukur.

Ibu dan bapak akhirnya kembali ke Solo setelah dijemput Yani dan suaminya, Gito, dan Wisnu (anaknya). Dengan kereta api, mereka meninggalkan Jakarta pada hari Senin (16/2/2009).

Kabar yang lebih menggembirakan lagi, sekitar pukul 14.00 WIB pada Jumat (20/02/2009), Nur diizinkan dirawat di rumah. Ia akhirnya dibawa kembali ke rumah keluarga suaminya yang ada di Tangerang. Dengan perhitungan, terapi bisa dilakukan di sekitar rumah.

Dan kini, Edi, pada Senin (23/02/2009), kembali ke Solo. Kita seudah semakin tenang. Karena Nur sudah sembuh. Semoga. (jjj)

0 komentar: